Belajar Bakat
532 penayangan
Daftar Isi
Saat mulai menjalankan iklan, banyak pendatang baru terjebak dalam perangkap "melihat angka tetapi tidak memahaminya." Laporan iklan penuh dengan metrik seperti CTR, CPC, CPM, Konversi, tetapi semakin Anda melihat, semakin bingung Anda, dan semakin banyak Anda mengoptimalkan, semakin sedikit pesanan yang Anda dapatkan.
Alasannya bukan karena metrik-metrik ini tidak berguna, melainkan karena pemula sering salah memahami maknanya, sehingga menyebabkan strategi optimasi yang salah sejak awal.
CTR adalah salah satu metrik yang paling diperhatikan oleh para pendatang baru. Ketika mereka melihat CTR yang tinggi, banyak yang percaya bahwa iklan tersebut berkinerja sangat baik. Namun pada kenyataannya, CTR hanya mencerminkan satu hal: apakah iklan tersebut mendorong pemirsa untuk mengkliknya.
Sebuah iklan mungkin memiliki CTR tinggi karena judul yang menarik, gambar yang memikat, atau konten yang kontroversial. Namun, jika klik tidak mengarah pada tindakan lebih lanjut, CTR tinggi tidak berarti banyak bagi bisnis tersebut.
Para pemula sering membuat kesalahan dengan menghentikan atau mengurangi anggaran berdasarkan CTR, alih-alih melihat perilaku setelah klik.
CPC yang rendah sering dianggap sebagai pertanda positif, karena artinya biaya per klik murah. Namun, CPC yang rendah hanya menunjukkan bahwa iklan tersebut menarik klik dengan biaya rendah; hal itu tidak mencerminkan kualitas klik tersebut.
Ada banyak kasus di mana CPC sangat murah, tetapi pelanggan hanya melihat konten dan langsung pergi, tanpa meninggalkan informasi mereka atau melakukan pembelian. Dalam kasus seperti itu, CPC yang murah hanya berarti Anda membeli banyak klik yang tidak relevan.
Bagi pemula, berfokus pada pengoptimalan CPC tanpa mempertimbangkan perilaku pelanggan seringkali menimbulkan perasaan "murah tetapi tetap tidak menghasilkan pesanan."
CPM yang tinggi seringkali membuat khawatir para pendatang baru yang menganggap iklan mereka "mahal." Namun, CPM mencerminkan biaya untuk mencapai 1.000 tayangan, dan metrik ini sangat dipengaruhi oleh target audiens, waktu penayangan, dan tingkat persaingan.
Dalam banyak kasus, CPM tinggi tetapi menargetkan audiens yang tepat dengan kebutuhan yang nyata dapat menghasilkan konversi yang lebih baik daripada CPM rendah dengan target audiens yang terlalu luas. Menilai efektivitas hanya berdasarkan CPM dapat dengan mudah menyebabkan tereliminasinya kampanye yang berpotensi sukses.
Penting untuk mempertimbangkan CPM dalam kaitannya dengan kualitas pelanggan, bukan secara terpisah.
Kesalahpahaman umum lainnya adalah menganggap konversi hanya sebagai pembelian. Padahal, konversi adalah tindakan signifikan apa pun yang Anda inginkan agar pelanggan lakukan, seperti meninggalkan informasi mereka, mengirim pesan, atau mengisi formulir.
Para pendatang baru seringkali hanya fokus pada jumlah pesanan, mengabaikan konversi perantara. Hal ini menyebabkan penilaian yang bias terhadap efektivitas iklan, terutama di industri yang membutuhkan konsultasi atau pembinaan pelanggan jangka panjang.
Tanpa mendefinisikan konversi secara jelas yang sesuai dengan model bisnis, iklan sulit dioptimalkan secara efektif.
Banyak pendatang baru mengevaluasi iklan mereka hanya setelah 1-2 hari berjalan. Ketika mereka tidak melihat pesanan langsung, mereka segera mematikan iklan atau mengubahnya terus-menerus. Hal ini mencegah algoritma memiliki cukup data untuk distribusi yang konsisten, dan metrik menjadi terdistorsi.
Iklan membutuhkan waktu untuk mengumpulkan data dan secara akurat mencerminkan perilaku pelanggan. Membaca data terlalu dini seringkali menyebabkan keputusan emosional yang tidak didasarkan pada data yang memadai.
Kesalahan mendasar adalah memandang metrik iklan secara terpisah dari operasional bisnis. Para pemula seringkali hanya melihat dasbor periklanan tanpa membandingkannya dengan pesanan, pendapatan, dan pengeluaran aktual.
Tanpa mengetahui kampanye mana yang menghasilkan pesanan dan berapa persentase dari total pendapatan yang berasal dari biaya iklan, optimasi iklan hampir tidak berarti dalam jangka panjang. Metrik iklan yang bagus tetapi kinerja bisnis yang tidak efektif tetaplah sebuah kegagalan.
Inti dari metrik periklanan bukanlah terletak pada angka-angka itu sendiri, tetapi pada bagaimana angka-angka tersebut mencerminkan perjalanan pelanggan. CTR, CPC, atau CPM hanyalah sinyal awal. Nilai sebenarnya terletak pada pemahaman apa yang dilakukan pelanggan setelah berinteraksi dengan iklan.
Para pendatang baru seringkali kesulitan bukan karena mereka kurang pengetahuan tentang iklan, tetapi karena mereka kekurangan sistem untuk menghubungkan data periklanan dengan data penjualan.
GTG CRM membantu bisnis menghubungkan data periklanan dengan data pelanggan, pesanan, dan pendapatan dalam satu platform. Alih-alih hanya melihat metrik individual di pengelola iklan, bisnis dapat melacak seluruh perjalanan pelanggan mulai dari saat mereka berinteraksi dengan iklan hingga pesanan dilakukan.

Sistem dasbor GTG CRM memungkinkan Anda untuk melihat gambaran umum aktivitas penjualan, mulai dari jumlah pelanggan yang dijangkau dan tingkat konversi hingga pendapatan aktual yang dihasilkan oleh setiap kampanye.

Ketika data terpusat, metrik iklan tidak lagi disalahartikan atau dinilai secara subjektif. Bisnis dapat melihat dengan jelas kampanye mana yang mendatangkan pelanggan berkualitas, bagaimana biaya iklan memengaruhi keuntungan, dan di mana proses penjualan dapat dioptimalkan.
GTG CRM membantu menjadikan iklan sebagai bagian integral dari sistem bisnis, bukan sekadar tampilan yang berdiri sendiri.
Metrik iklan tidaklah rumit, tetapi mudah disalahartikan jika dilihat secara terpisah. Pengiklan baru perlu mempelajari cara menafsirkan data dalam kaitannya dengan perilaku pelanggan dan hasil bisnis yang sebenarnya.
Memahami metrik dengan benar adalah langkah pertama menuju optimasi yang tepat. Dan optimasi yang tepat hanya terjadi jika ada sistem yang cukup jelas di baliknya.









