Untuk membangun saluran penjualan sendiri di luar marketplace, seller perlu memiliki roadmap yang jelas, alih-alih mencoba menerapkan semuanya sekaligus. Roadmap 3 langkah yang logis adalah: mulai dengan website sendiri untuk menciptakan fondasi kehadiran independen, selanjutnya membangun landing page untuk setiap kampanye spesifik, dan terakhir menghubungkan CRM untuk menyimpan dan merawat data pelanggan. Setelah fondasi kuat, barulah seller sebaiknya berekspansi ke email marketing dan otomatisasi untuk mengoptimalkan operasional jangka panjang.

Banyak seller online yang sukses berjualan di marketplace seperti Shopee, Lazada, atau TikTok Shop. Omzet stabil, pesanan lancar, semuanya tampak berjalan sesuai rencana. Namun, ketika melihat secara keseluruhan, tidak sedikit yang mulai menyadari satu hal: mereka terlalu bergantung pada platform pihak ketiga.
Perubahan kebijakan, kenaikan biaya, algoritma yang berubah, penurunan traffic yang tiba-tiba. Semua faktor ini berada di luar kendali seller. Dan yang lebih penting, data pelanggan, aset paling berharga dari toko online mana pun, sebenarnya tidak benar-benar milik mereka.
Banyak seller telah menyadari hal ini dan mulai berpikir untuk membangun sistem penjualan sendiri. Namun, ketika mulai mengerjakannya, mereka seringkali kewalahan dengan banyaknya hal yang perlu diimplementasikan: website, landing page, CRM, email marketing, otomatisasi, iklan, analisis data. Kemudian mereka berhenti di tengah jalan, atau mengerjakannya secara sembarangan tanpa fokus, membuang-buang waktu dan uang.
Sebenarnya, membangun saluran penjualan sendiri di luar marketplace tidak berarti harus melakukan semuanya sekaligus, juga tidak berarti harus segera meninggalkan marketplace. Yang seller butuhkan adalah roadmap yang jelas, langkah demi langkah, sesuai urutan prioritas berdasarkan logika bisnis yang realistis.
Mengapa Banyak Seller Menginginkan Sistem Sendiri Tapi Seringkali Terjebak
Pemikiran Harus Melakukan Terlalu Banyak Hal Sekaligus
Ketika memutuskan untuk membangun saluran penjualan sendiri, reaksi alami banyak seller adalah langsung memikirkan sistem yang lengkap: harus punya website yang bagus, harus punya CRM yang canggih, harus punya email marketing yang berjalan otomatis, harus punya chatbot, harus punya aplikasi mobile. Daftarnya terus memanjang dan tekanan terus meningkat.
Akibatnya, seller tidak tahu harus mulai dari mana. Mereka menyewa pembuatan website tetapi belum jelas tujuannya, membeli CRM tetapi belum ada pelanggan untuk dikelola, menyiapkan email marketing tetapi belum ada daftar penerima. Semuanya diimplementasikan secara terpisah, tanpa koneksi logis, dan akhirnya tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Kurangnya Pemahaman Tentang Urutan Prioritas
Salah satu alasan utama mengapa seller terjebak adalah karena tidak memahami urutan prioritas dengan jelas. Mereka tidak tahu bahwa sebelum memikirkan perawatan pelanggan otomatis, mereka harus memiliki pelanggan terlebih dahulu. Sebelum memiliki pelanggan, mereka harus memiliki tempat untuk mengumpulkan informasi pelanggan. Dan sebelum mengumpulkan informasi, mereka harus memiliki tempat bagi pelanggan untuk mempelajari produk dan merek.
Website, landing page, CRM, email marketing, dan otomatisasi bukanlah alat pengganti satu sama lain. Mereka adalah lapisan-lapisan berurutan dalam sebuah sistem. Jika lapisan fondasi hilang, lapisan di atasnya tidak akan dapat berfungsi secara efektif.
Kekhawatiran Biaya dan Upaya yang Terlalu Besar
Banyak seller berpikir bahwa untuk memiliki saluran penjualan yang lengkap, mereka harus berinvestasi banyak uang dan waktu sejak awal. Mereka mendengar tentang sistem CRM yang rumit, tentang kampanye email marketing yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibangun, tentang proses otomatisasi yang membutuhkan keahlian tinggi.
Kenyataannya, jika mengikuti roadmap yang tepat, seller dapat memulai dengan langkah-langkah sederhana dan berbiaya wajar. Yang terpenting adalah memahami di tahap mana mereka berada, apa yang harus diprioritaskan terlebih dahulu, dan secara bertahap membangun setiap lapisan dengan kokoh.
Pola Pikir yang Benar Saat Membangun Saluran Penjualan Sendiri di Luar Marketplace
Membangun Lapisan demi Lapisan Sesuai Logika Perkembangan
Alih-alih mencoba melakukan semuanya sekaligus, seller sebaiknya memikirkan pembangunan sistem secara berlapis. Setiap lapisan memiliki tujuan yang jelas dan berfungsi sebagai fondasi untuk lapisan berikutnya.
Lapisan pertama adalah tempat kehadiran sendiri. Ini adalah tempat pelanggan dapat mempelajari merek dan produk Anda tanpa terikat oleh antarmuka dan kebijakan marketplace. Website sendiri untuk seller adalah solusi untuk lapisan ini.
Lapisan kedua adalah tempat konversi berdasarkan kampanye spesifik. Ketika seller memiliki website keseluruhan, membuat halaman yang berfokus pada satu produk atau satu program promosi tertentu akan membantu meningkatkan tingkat konversi. Landing page untuk seller memainkan peran ini.
Lapisan ketiga adalah sistem untuk menyimpan dan mengelola data pelanggan. Ketika sudah ada pengunjung yang datang dan meninggalkan informasi, menyimpan dan mengatur data ini secara ilmiah adalah kunci untuk penjualan kembali dan perawatan pelanggan jangka panjang. Inilah saatnya CRM untuk ecommerce menjadi penting.
Setelah ketiga lapisan fondasi ini beroperasi stabil, barulah seller sebaiknya berekspansi ke alat optimalisasi seperti email marketing untuk seller online dan otomatisasi untuk penjualan online.
Tidak Perlu Segera Meninggalkan Marketplace
Satu hal penting yang perlu diperjelas: membangun saluran penjualan sendiri tidak berarti harus segera meninggalkan marketplace. Marketplace masih merupakan sumber traffic dan omzet yang baik, terutama pada tahap awal ketika sistem sendiri masih baru.
Roadmap yang benar adalah terus berjualan di marketplace untuk menjaga arus kas, sambil secara bertahap membangun saluran sendiri. Ketika saluran sendiri sudah cukup kuat, seller dapat lebih proaktif dalam mengalokasikan sumber daya dan mengurangi ketergantungan pada marketplace.
Fokus pada Penyimpanan Data Pelanggan
Salah satu alasan terbesar untuk membangun saluran penjualan sendiri adalah untuk menyimpan data pelanggan. Di marketplace, seller tidak memiliki informasi pelanggan. Setiap kali berjualan, seller harus memulai dari awal lagi, bergantung pada traffic yang dibawa oleh marketplace.
Ketika memiliki sistem sendiri, setiap kali pelanggan meninggalkan informasi, seller sedang membangun aset yang berharga. Aset ini dapat digunakan untuk menjangkau kembali, merawat, dan menjual berkali-kali di masa depan tanpa harus mengeluarkan biaya iklan seperti pada pertama kali.
Roadmap 3 Langkah Membangun Saluran Penjualan Sendiri
Langkah 1: Membangun Website Penjualan
Mengapa Website Adalah Langkah Awal yang Logis
Website penjualan adalah fondasi pertama dalam roadmap membangun saluran penjualan sendiri di luar marketplace. Ini adalah tempat seller menciptakan ruang kehadiran yang independen, tempat pelanggan dapat mempelajari merek, melihat semua produk, dan merasakan cerita yang ingin disampaikan oleh seller.
Berbeda dengan toko di marketplace yang dibatasi oleh template dan kebijakan umum, website sendiri memungkinkan seller menampilkan identitas merek, mengatur produk dengan cara sendiri, dan membangun kepercayaan pelanggan dengan cara yang sepenuhnya mereka kendalikan.
Selain itu, website juga merupakan tujuan utama ketika seller menjalankan iklan atau berbagi konten di media sosial. Alih-alih mengarahkan traffic ke toko di marketplace, di mana pelanggan dapat terdistraksi ke pesaing lain, website membantu seller mempertahankan pelanggan dalam ekosistem mereka sendiri.
Apa Saja yang Dibutuhkan di Website Tahap Awal
Website tahap awal tidak perlu terlalu rumit. Seller sebaiknya fokus pada elemen-elemen inti: halaman beranda untuk gambaran umum, halaman produk dengan deskripsi dan gambar yang jelas, halaman tentang merek, halaman kontak, dan kebijakan penjualan.
Yang terpenting adalah website mudah dinavigasi, memiliki kecepatan muat yang cepat, tampil baik di ponsel, dan memiliki saluran kontak yang jelas. Pelanggan perlu merasa aman saat berbelanja dari website baru, oleh karena itu elemen-elemen yang membangun kepercayaan seperti ulasan pelanggan, kebijakan pengembalian, dan informasi kontak yang transparan sangat penting.
KPI yang Perlu Diperhatikan pada Tahap Website
Pada tahap awal ketika website baru diluncurkan, seller sebaiknya memantau indikator dasar seperti:
- Jumlah kunjungan website per hari/minggu
- Tingkat pantulan halaman yang cepat
- Halaman mana yang paling banyak dilihat
- Rata-rata waktu yang dihabiskan pelanggan di halaman
- Jumlah pelanggan yang mengklik tombol kontak atau Zalo/Messenger
Indikator-indikator ini membantu seller memahami apakah pelanggan tertarik dengan kontennya, halaman mana yang perlu ditingkatkan, dan apakah website berfungsi secara efektif sebagai tempat perkenalan.
Langkah 2: Membuat Landing Page untuk Setiap Kampanye
Mengapa Membutuhkan Landing Page Ketika Sudah Punya Website
Website keseluruhan sangat baik untuk memperkenalkan merek dan seluruh produk. Namun, ketika seller menjalankan kampanye spesifik, misalnya flash sale akhir pekan atau peluncuran produk baru, mengarahkan pelanggan ke halaman utama yang umum akan mengurangi efektivitas konversi.
Landing page untuk seller adalah solusi untuk masalah ini. Ini adalah halaman yang dirancang untuk satu tujuan tunggal: mendorong pelanggan untuk melakukan tindakan tertentu seperti mengisi formulir, mendaftar untuk menerima informasi, atau segera membeli produk yang sedang promosi.
Landing page yang efektif memiliki konten singkat, gambar yang menonjol, ajakan bertindak yang jelas, dan tidak banyak jalan keluar. Pelanggan yang masuk ke halaman itu akan tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Kapan Sebaiknya Mulai Membangun Landing Page
Seller sebaiknya mulai membangun landing page ketika website sudah beroperasi stabil dan kampanye pemasaran spesifik mulai dijalankan. Jika seller menjalankan iklan Facebook untuk produk baru, atau memiliki program diskon khusus, itulah saatnya membutuhkan landing page tersendiri.
Landing page juga sangat berguna ketika seller ingin mengumpulkan informasi dari calon pelanggan. Alih-alih meminta pelanggan untuk membeli segera, seller dapat membuat landing page untuk menawarkan ebook gratis, voucher, atau materi bermanfaat lainnya sebagai imbalan atas informasi kontak.
KPI yang Perlu Diperhatikan pada Tahap Landing Page
Ketika landing page telah diimplementasikan, seller perlu memantau indikator berikut:
- Tingkat konversi: berapa banyak pengunjung yang melakukan tindakan yang diinginkan
- Jumlah formulir yang terisi lengkap
- Biaya iklan per konversi
- Sumber traffic mana yang memberikan konversi tertinggi
- Tombol ajakan bertindak mana yang paling banyak diklik
Data ini membantu seller mengoptimalkan landing page dan mengalokasikan anggaran iklan secara lebih efektif.
Langkah 3: Menghubungkan CRM untuk Menyimpan dan Merawat Data Pelanggan
Mengapa CRM Adalah Langkah Paling Penting
Jika website dan landing page membantu seller menjangkau dan menarik pelanggan, maka CRM untuk ecommerce adalah alat untuk menyimpan dan merawat pelanggan tersebut. Ini adalah tempat untuk menyimpan semua informasi pelanggan yang telah ditinggalkan: nama, nomor telepon, email, produk yang diminati, riwayat interaksi.
Tanpa CRM, seller seringkali menyimpan informasi pelanggan secara terpisah: sebagian di Excel, sebagian di pesan Zalo, sebagian di daftar kontak telepon. Hal ini membuat pengelolaan dan perawatan pelanggan menjadi kacau dan tidak efektif.
CRM membantu seller mengatur data secara ilmiah, mengelompokkan pelanggan berdasarkan grup, perilaku, atau tingkat minat. Dari sana, seller dapat secara proaktif menjangkau kembali pelanggan yang tepat pada waktu yang tepat dengan pesan yang tepat.
Yang lebih penting, CRM membantu seller tidak perlu memulai dari awal setiap kali ingin berjualan. Alih-alih setiap kali menjalankan iklan untuk mencari pelanggan baru, seller dapat menjual kembali kepada pelanggan yang telah percaya dan membeli sebelumnya dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Cara CRM Terhubung dengan Website dan Landing Page
Agar CRM berfungsi efektif, ia perlu dihubungkan langsung dengan formulir pengumpulan informasi di website dan landing page. Ketika pelanggan mengisi formulir pendaftaran untuk konsultasi atau mendapatkan voucher, data tersebut akan secara otomatis masuk ke CRM, alih-alih harus dimasukkan secara manual.
Integrasi ini membantu seller menghemat waktu, mengurangi kesalahan, dan memastikan tidak ada prospek yang terlewat. Segera setelah ada informasi baru, seller dapat menyiapkan proses perawatan segera.
KPI yang Perlu Diperhatikan pada Tahap CRM
Ketika CRM sudah ada, seller sebaiknya memantau indikator seperti:
- Jumlah total kontak yang tersimpan dalam sistem
- Jumlah kontak baru per minggu
- Tingkat konversi prospek menjadi pelanggan sungguhan
- Rata-rata jumlah jangkauan yang diperlukan untuk menyelesaikan pesanan
- Tingkat pelanggan lama yang kembali membeli
Indikator-indikator ini membantu seller mengevaluasi efektivitas pengelolaan dan perawatan pelanggan, sehingga dapat menyesuaikan strategi yang sesuai.
Ekspansi: Email Marketing dan Otomatisasi
Kapan Sebaiknya Mulai dengan Email Marketing untuk Seller Online
Setelah website, landing page, dan CRM beroperasi stabil, seller akan memiliki data pelanggan yang cukup banyak untuk mulai memikirkan email marketing. Ini adalah tahap ekspansi, bukan tahap fondasi.
Email marketing untuk seller online memungkinkan pengiriman informasi produk baru, program promosi, atau konten bermanfaat ke daftar pelanggan yang sudah ada. Berbeda dengan iklan yang harus dibayar setiap kali jangkauan, email marketing membantu seller berinteraksi dengan pelanggan tanpa biaya iklan tambahan.
Namun, email marketing hanya efektif jika seller sudah memiliki daftar email berkualitas yang dikumpulkan dari orang-orang yang benar-benar tertarik dengan produk. Jika daftar belum cukup besar atau belum dikategorikan dengan jelas, pengiriman email tidak akan memberikan hasil yang diharapkan.
Peran Otomatisasi untuk Penjualan Online
Ketika sistem sudah berjalan stabil dan banyak pelanggan berinteraksi, seller akan menyadari bahwa beberapa pekerjaan berulang dapat diotomatisasi. Misalnya, mengirim email selamat datang untuk pelanggan baru, mengirim pengingat untuk pelanggan yang meninggalkan keranjang belanja, mengirim penawaran ulang tahun, atau merawat pelanggan setelah pembelian.
Otomatisasi untuk penjualan online membantu seller menyiapkan proses perawatan pelanggan otomatis berdasarkan perilaku dan waktu spesifik. Ini menghemat waktu, memastikan tidak ada pelanggan yang terlewat, dan menciptakan pengalaman yang konsisten.
Namun, otomatisasi sebaiknya hanya diimplementasikan ketika seller sudah memahami perjalanan pelanggan dan proses perawatan manual sudah berjalan baik. Jika melakukan otomatisasi terlalu dini ketika prosesnya belum jelas, hasilnya tidak akan seperti yang diharapkan.
KPI yang Perlu Diperhatikan pada Tahap Ekspansi
Saat mengimplementasikan email marketing dan otomatisasi, seller sebaiknya memantau:
- Tingkat pembukaan email
- Tingkat klik tautan di dalam email
- Tingkat berhenti berlangganan email
- Omzet dari kampanye email
- Efektivitas setiap alur kerja otomatis
Indikator-indikator ini membantu seller mengetahui kampanye mana yang berjalan baik, konten apa yang menarik minat pelanggan, dan apa yang perlu disesuaikan untuk mengoptimalkan efektivitas.
Timeline 30-60-90 Hari: Roadmap Realistis untuk Seller
30 Hari Pertama: Fokus Membangun Website
Dalam 30 hari pertama, seller sebaiknya sepenuhnya fokus pada pembangunan dan penyempurnaan website penjualan. Ini adalah tahap untuk menciptakan fondasi dasar.
Minggu 1-2: Menyusun rencana konten, menyiapkan gambar produk, menulis deskripsi produk, dan menentukan struktur halaman. Jika sudah memiliki konten dari toko di marketplace, inilah saatnya untuk mengedit dan memperbaruinya agar sesuai dengan website sendiri.
Minggu 3: Meluncurkan website, menyiapkan halaman dasar, menginstal alat pelacak seperti Google Analytics untuk mengukur traffic.
Minggu 4: Melakukan pemeriksaan menyeluruh, mengoptimalkan kecepatan muat halaman, memastikan tampilan baik di ponsel, dan mulai menguji mengarahkan traffic dari saluran yang sudah ada seperti Facebook pribadi atau grup pelanggan.
Tujuan akhir bulan pertama: memiliki website yang beroperasi stabil, mudah digunakan, dan siap menerima pelanggan.
60 Hari Berikutnya: Menambahkan Landing Page dan Mulai Mengumpulkan Data
Setelah website beroperasi dan memiliki traffic awal, 60 hari berikutnya adalah saat seller sebaiknya membangun landing page untuk kampanye spesifik dan mulai mengumpulkan data pelanggan secara sistematis.
Minggu 5-6: Menentukan produk atau program mana yang membutuhkan landing page tersendiri. Bisa jadi produk terlaris, produk baru, atau program promosi yang akan datang. Desain landing page sederhana, fokus pada satu tujuan yang jelas.
Minggu 7-8: Menjalankan uji coba kampanye iklan kecil yang mengarah ke landing page, memantau tingkat konversi, dan menyesuaikan konten atau desain jika diperlukan.
Minggu 9-10: Meluncurkan CRM dasar, menghubungkan formulir di website dan landing page dengan CRM agar data pelanggan tersimpan otomatis. Mulai mengelompokkan pelanggan berdasarkan sumber dan tingkat minat.
Minggu 11-12: Menguji proses perawatan pelanggan secara manual. Menelepon atau mengirim pesan Zalo ke pelanggan yang telah meninggalkan informasi untuk memahami perjalanan mereka dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.
Tujuan akhir bulan kedua: memiliki setidaknya satu landing page yang beroperasi efektif dan mulai mengumpulkan data pelanggan di CRM.
90 Hari Berikutnya: Mengoptimalkan Sistem dan Mempertimbangkan Ekspansi
Setelah 90 hari pertama, seller sudah memiliki sistem dasar yang beroperasi: website, landing page, dan CRM. Inilah saatnya untuk mengoptimalkan dan mempertimbangkan langkah-langkah ekspansi.
Minggu 13-16: Menganalisis data dari 3 bulan pertama. Halaman mana yang memiliki tingkat konversi tertinggi? Sumber traffic mana yang paling efektif? Pelanggan mana yang cenderung membeli berulang kali?
Minggu 17-20: Berdasarkan analisis data, mengoptimalkan kembali konten website, meningkatkan landing page, dan menyempurnakan proses perawatan pelanggan.
Minggu 21-24: Jika sudah memiliki data pelanggan yang cukup besar dan terkelompok dengan baik, dapat mulai mencoba email marketing dengan kampanye kecil. Kirim informasi berharga atau penawaran khusus ke kelompok pelanggan tertentu dan pantau responnya.
Minggu 25 dan seterusnya: Terus mengoptimalkan dan berekspansi secara bertahap. Jika email marketing memberikan hasil yang baik, dapat menyiapkan alur kerja otomatisasi sederhana untuk merawat pelanggan secara otomatis.
Tujuan akhir bulan ketiga: memiliki sistem yang beroperasi stabil, data yang jelas tentang efektivitas setiap saluran, dan siap untuk berekspansi atau berinvestasi lebih lanjut pada saluran yang efektif.
Perbandingan: Melakukan Segalanya Sekaligus vs Mengikuti Setiap Tahap
Skenario A: Seller Melakukan Segalanya Sekaligus
Seorang seller yang bertekad membangun saluran penjualan sendiri. Mereka menyewa pembuatan website, membeli CRM, mendaftar layanan email marketing, dan mulai menjalankan iklan secara besar-besaran. Semuanya dalam kurun waktu 2 minggu.
Hasilnya: website belum sempat dioptimalkan kontennya, CRM belum memiliki data untuk dikelola, email marketing belum memiliki daftar penerima. Iklan membakar uang tetapi tidak tahu cara mengoptimalkannya karena tidak jelas apa hambatan utamanya. Setelah 2 bulan, seller merasa kewalahan, tidak tahu harus fokus pada apa, dan mulai meragukan apakah saluran sendiri benar-benar cocok untuk mereka.
Skenario B: Seller Mengikuti Setiap Tahap
Seorang seller lain juga memutuskan untuk membangun saluran sendiri, tetapi mulai dengan fokus sepenuhnya pada website di bulan pertama. Mereka mengedit konten dengan cermat, mengoptimalkan gambar, dan mulai mengarahkan traffic dari Facebook pribadi untuk pengujian.
Setelah melihat website beroperasi dengan baik, mereka membuat landing page untuk program flash sale akhir pekan dan menjalankan iklan kecil. Ketika ada pelanggan yang meninggalkan informasi, barulah mereka mulai menggunakan CRM untuk menyimpan dan memantaunya.
Hasilnya: setelah 3 bulan, seller ini memiliki sistem yang sederhana tetapi beroperasi efektif. Mereka tahu persis nilai yang diberikan oleh setiap bagian, tahu di mana harus berinvestasi lebih banyak, dan merasa percaya diri untuk terus berekspansi.
Mini Case: Dari Ketergantungan Marketplace ke Memiliki Sistem Sendiri
Ibu Lan berjualan kosmetik di Shopee selama 2 tahun. Omzet setiap bulan sekitar 50-70 juta, cukup stabil. Namun, ia menyadari bahwa setiap kali Shopee mengubah algoritma atau menaikkan biaya, keuntungannya langsung menurun. Yang terpenting, ia tidak punya cara untuk menghubungi kembali pelanggan yang sudah membeli kecuali mereka kembali secara otomatis.
Ia memutuskan untuk membangun saluran penjualan sendiri tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah mencari informasi, ia memilih mengikuti roadmap langkah demi langkah.
Bulan pertama, ia fokus membuat website yang memperkenalkan lini produk utamanya. Ia tidak berusaha membuat website yang terlalu rumit, hanya fokus pada presentasi produk yang baik, deskripsi yang jelas, dan formulir kontak. Ia mulai membagikan tautan website di Facebook pribadi dan di grup pelanggan setia.
Bulan kedua, ia melihat ada produk serum yang sangat diminati pelanggan. Ia membuat landing page khusus untuk produk ini dengan penawaran beli 2 gratis 1. Ia menjalankan iklan Facebook kecil yang mengarah ke landing page dan meminta pelanggan mengisi formulir untuk mendapatkan konsultasi. Hasilnya, dalam 2 minggu ia mengumpulkan lebih dari 100 informasi calon pelanggan.
Saat inilah ia mulai menggunakan CRM untuk menyimpan dan mengelompokkan pelanggan tersebut. Ia membaginya menjadi kelompok yang sudah membeli, kelompok yang tertarik tetapi belum membeli, dan kelompok yang perlu perawatan lebih lanjut. Ia secara proaktif menghubungi dan mengirim pesan Zalo ke setiap kelompok dengan pesan yang sesuai.
Setelah 3 bulan, ia memiliki daftar lebih dari 300 calon pelanggan di CRM. Ia mulai mengirim email mingguan yang berbagi tips perawatan kulit dan memperkenalkan produk baru. Tingkat pembukaan email awalnya sekitar 20-25%, dan sekitar 5-7% pelanggan kembali membeli setelah setiap kampanye email.
Ibu Lan tidak meninggalkan Shopee, tetapi kini ia memiliki saluran penjualan sendiri yang berjalan berdampingan. Ketika ada pelanggan yang membeli di Shopee, ia secara proaktif menyertakan kartu ucapan terima kasih dengan tautan website dan voucher diskon untuk pembelian berikutnya. Perlahan-lahan, sebagian pelanggan dari Shopee beralih membeli langsung melalui saluran sendiri, di mana ia dapat merawat dan menjual kembali secara proaktif tanpa harus membagi biaya dengan marketplace.
Menentukan Sendiri Berada di Tahap Mana dalam Roadmap
Untuk mengetahui apa yang harus diprioritaskan selanjutnya, seller dapat melakukan evaluasi diri berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut:
Tentang Website: - Apakah Anda sudah memiliki website sendiri? - Apakah website tampil baik di ponsel? - Apakah pelanggan mudah menemukan informasi produk dan cara menghubungi? - Apakah Anda memantau jumlah kunjungan dan perilaku pelanggan di website?
Tentang Landing Page: - Apakah Anda sudah memiliki landing page untuk produk atau kampanye spesifik? - Apakah landing page memiliki tujuan konversi yang jelas? - Apakah Anda mengumpulkan informasi pelanggan melalui formulir?
Tentang CRM: - Di mana Anda menyimpan informasi pelanggan? - Apakah Anda dapat dengan mudah menemukan kembali informasi pelanggan tertentu? - Apakah Anda mengelompokkan pelanggan berdasarkan grup atau perilaku? - Apakah Anda secara proaktif menjangkau kembali pelanggan lama?
Tentang Email dan Otomatisasi: - Apakah Anda sudah memiliki daftar email pelanggan yang cukup besar? - Apakah Anda mengirim email marketing secara berkala? - Apakah ada proses perawatan pelanggan otomatis yang sedang berjalan?
Jika sebagian besar jawaban untuk bagian Website adalah "belum" atau "tidak", itu menandakan Anda harus fokus pada langkah 1. Jika sudah memiliki website tetapi belum memiliki landing page atau belum mengumpulkan data secara sistematis, lanjutkan ke langkah 2. Jika sudah memiliki website dan landing page tetapi data pelanggan masih tersebar, saatnya memprioritaskan langkah 3 dengan CRM.
GTG CRM: Solusi Membantu Seller Mengikuti Roadmap Lebih Efisien
Ketika seller sudah memahami roadmap 3 langkah dan bertekad untuk mengimplementasikannya, pertanyaan berikutnya adalah: alat apa yang sebaiknya digunakan?
Salah satu kesulitan terbesar seller adalah harus menggunakan banyak alat yang berbeda untuk setiap langkah. Website menggunakan satu platform, landing page menggunakan alat lain, CRM adalah sistem tersendiri, email marketing harus diintegrasikan dari layanan keempat. Setiap alat memiliki cara penggunaan sendiri, biaya sendiri, dan koneksi antar alat seringkali rumit.
GTG CRM dibangun dengan tujuan membantu seller mengikuti roadmap ini dengan lebih ringkas. Dalam satu platform tunggal, seller dapat:
- Membangun website multi-halaman dengan antarmuka profesional
- Membuat landing page untuk setiap kampanye atau produk spesifik
- Menggunakan formulir pengumpulan informasi pelanggan
- Data dari formulir secara otomatis masuk ke CRM untuk dikelola
- Menyimpan dan mengelompokkan kontak pelanggan secara ilmiah
- Mengirim email marketing dengan alat drag-and-drop yang sederhana
- Menyiapkan alur kerja otomatisasi untuk merawat pelanggan sesuai proses
Ini berarti seller tidak perlu menghabiskan waktu mempelajari cara menggunakan banyak alat berbeda, tidak perlu khawatir tentang integrasi, dan tidak perlu membayar biaya untuk banyak layanan terpisah. Semuanya ada dalam satu sistem terpadu, membantu seller fokus pada penjualan dan perawatan pelanggan, bukan berjuang dengan teknologi.
Bagi seller yang baru memulai, GTG CRM membantu mengimplementasikan roadmap dari langkah 1 hingga langkah 3 dengan mulus. Bagi seller yang sudah memiliki website sendiri tetapi belum memiliki CRM, GTG CRM membantu melengkapi lapisan yang hilang tanpa harus membangun ulang dari awal.
Kesimpulan
Membangun saluran penjualan sendiri di luar marketplace bukanlah keputusan mendadak atau proyek yang harus diselesaikan dalam satu bulan. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan strategi yang jelas dan ketekunan.
Roadmap 3 langkah membantu seller memiliki jalur yang spesifik untuk diikuti: mulai dengan website penjualan untuk menciptakan tempat kehadiran sendiri, lanjutkan dengan landing page untuk seller guna meningkatkan konversi per kampanye, dan lengkapi dengan CRM untuk ecommerce guna menyimpan data pelanggan dan perawatan jangka panjang. Ketika fondasi sudah kuat, ekspansi ke email marketing untuk seller online dan otomatisasi untuk penjualan online akan menjadi lebih alami dan efektif.
Yang terpenting adalah seller tidak boleh mencoba melakukan semuanya sekaligus. Fokus pada setiap langkah, bangun setiap lapisan dengan kokoh, ukur hasilnya, dan sesuaikan sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya. Itulah satu-satunya cara untuk membangun sistem penjualan sendiri yang berkelanjutan dan benar-benar memberikan nilai jangka panjang.
Jika Anda seorang seller online yang sedang mencari cara untuk keluar dari ketergantungan pada marketplace, mulailah dengan langkah pertama hari ini. Anda tidak perlu segera meninggalkan marketplace, tetapi Anda perlu mulai membangun sistem sendiri jika ingin masa depan bisnis yang lebih berkelanjutan.
Mulailah membangun website penjualan dengan GTG CRM hari ini untuk membangun fondasi pertama saluran penjualan Anda sendiri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apakah saya perlu meninggalkan marketplace saat membangun saluran penjualan sendiri?
Tidak harus. Membangun saluran penjualan sendiri di luar marketplace tidak berarti harus segera meninggalkan marketplace. Seller sebaiknya terus berjualan di marketplace untuk menjaga arus kas, sambil secara bertahap membangun sistem sendiri. Ketika sistem sendiri sudah cukup kuat, Anda dapat lebih proaktif dalam mengalokasikan sumber daya.
2. Saya harus mulai dari langkah mana jika belum punya apa-apa?
Jika belum punya apa-apa, mulailah dari langkah 1 dengan website sendiri untuk seller. Ini adalah fondasi paling dasar untuk menciptakan tempat kehadiran yang independen. Setelah website beroperasi stabil, lanjutkan dengan landing page dan CRM sesuai urutan.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memiliki sistem penjualan yang efektif?
Dengan roadmap 3 langkah, seller dapat memiliki sistem dasar yang beroperasi dalam waktu 3 bulan. 30 hari pertama fokus pada website, 60 hari berikutnya menambahkan landing page dan CRM, dan 90 hari setelahnya mengoptimalkan sistem. Namun, waktu spesifik tergantung pada sumber daya dan tingkat fokus masing-masing seller.
4. Berapa biaya untuk membangun saluran penjualan sendiri?
Biaya tergantung pada alat dan skala implementasi. Jika menggunakan platform terpadu seperti GTG CRM, seller dapat menghemat biaya dibandingkan dengan membeli banyak alat terpisah. Yang terpenting adalah berinvestasi langkah demi langkah sesuai kemampuan finansial, alih-alih mencoba melakukan semuanya sekaligus dan melebihi anggaran.
5. Saya tidak paham teknologi, apakah saya bisa membangun website dan landing page sendiri?
Bisa. Platform modern seperti GTG CRM dirancang agar orang yang tidak memiliki keahlian teknis pun dapat membangun website dan landing page sendiri melalui antarmuka drag-and-drop yang sederhana. Anda tidak perlu tahu pemrograman atau desain mendalam untuk memulai.
6. Kapan saya sebaiknya mulai menggunakan email marketing dan otomatisasi?
Email marketing dan otomatisasi sebaiknya diimplementasikan setelah Anda memiliki website, landing page, dan CRM yang beroperasi stabil, serta memiliki data pelanggan yang cukup banyak. Jika diimplementasikan terlalu dini sebelum ada data atau belum memahami perjalanan pelanggan, efektivitasnya tidak akan tinggi.
7. Bagaimana cara mengetahui saluran penjualan sendiri saya beroperasi efektif?
Pantau KPI yang sesuai untuk setiap tahap: jumlah kunjungan website, tingkat konversi di landing page, jumlah kontak baru di CRM, tingkat pelanggan yang kembali membeli. Yang terpenting adalah membandingkan biaya penarikan pelanggan baru dengan biaya penjualan kembali kepada pelanggan lama untuk melihat nilai sebenarnya dari menyimpan data pelanggan.
8. Bisakah saya memindahkan data pelanggan dari marketplace ke sistem sendiri?
Umumnya, marketplace tidak menyediakan data kontak rinci pelanggan kepada seller. Itulah sebabnya membangun saluran sendiri dan mengumpulkan data langsung dari pelanggan menjadi penting. Anda dapat secara proaktif mengundang pelanggan yang sudah membeli di marketplace untuk bergabung dengan saluran sendiri melalui penawaran atau program loyalitas.
Ubah apa yang baru saja Anda baca menjadi hasil nyata — terapkan sekarang dengan GTG CRM, gratis.
Terapkan Sekarang