Wawasan

Puncak pajak akhir tahun: Bisnis dan usaha rumah tangga menghadapi tekanan dari "deklarasi mandiri dan pembayaran mandiri".

Bakat akademis

532 penayangan

Daftar Isi

Mulai 1 Januari 2026, Departemen Pajak akan menerapkan transformasi model manajemen untuk usaha rumah tangga, mengakhiri mekanisme pajak sekaligus dan beralih ke deklarasi berdasarkan pendapatan aktual. Ini merupakan perubahan besar karena tanggung jawab "menghitung sendiri, mendeklarasikan sendiri, dan membayar sendiri" akan secara langsung terkait dengan data penjualan, faktur, dan dokumen setiap usaha rumah tangga, bukan lagi tarif pajak yang telah ditentukan sebelumnya.

Metode perhitungan dan deklarasi pajak setelah 1 Januari 2026

Poin penting untuk periode setelah 1 Januari 2026 adalah: otoritas pajak akan mengelola berdasarkan pendapatan aktual, dan rumah tangga bisnis perlu memiliki data yang cukup jelas untuk melakukan deklarasi secara akurat.

Apa arti "deklarasi diri, pembayaran sendiri"?

  • Pendapatan kena pajak yang ditentukan sendiri: pendapatan yang dihasilkan dari penjualan barang dan penyediaan jasa selama periode tersebut.
  • Siapkan sendiri surat pemberitahuan pajak Anda: kirimkan formulir surat pemberitahuan pajak dan periode pengajuan sesuai ketentuan.
  • Bayar pajak tepat waktu: setelah menentukan jumlah pajak yang harus dibayar sesuai dengan petunjuk yang berlaku.

Terkait pedoman implementasi, Departemen Pajak telah mengkomunikasikan dengan jelas tujuan untuk membantu rumah tangga bisnis agar terbiasa dan beralih ke deklarasi mandiri dan pembayaran pajak mulai tahun 2026.

Lihat detail selengkapnya di: Tautan

Skema deklarasi diri dan pembayaran sendiri

Kasus deklarasi umum

Saat ini, Kementerian Keuangan sedang mengkomunikasikan pendekatan yang disederhanakan terhadap "dokumen, formulir" dan prosedur, dengan fokus pada penyederhanaan deklarasi pajak, pengkategorian wajib pajak berdasarkan jenis dan metode perhitungan pajak (misalnya, kelompok yang dikecualikan dari PPN dan pajak penghasilan pribadi; kelompok yang dikenakan pajak berdasarkan pendapatan; kelompok yang dikenakan pajak berdasarkan penghasilan kena pajak). Hal ini disebutkan dalam informasi Surat Kabar Pemerintah tentang dokumen dan prosedur pengelolaan pajak untuk rumah tangga bisnis, beserta uraian formulir deklarasi yang diusulkan dalam draf surat edaran. Lihat tautan untuk informasi detail tentang kasus-kasus yang memerlukan deklarasi .

Catatan penting: Templat formulir spesifik dapat diperbarui sesuai dengan pedoman resmi, tetapi prinsip dasarnya tetap pelaporan berbasis data. [Contoh formulir]

Mengapa faktur elektronik dan data penjualan menjadi "tulang punggung" teknologi digital?

Saat beralih ke pelaporan berbasis deklarasi, data yang digunakan untuk deklarasi tidak lagi bergantung pada "estimasi sekaligus," tetapi harus mematuhi hal-hal berikut:

  • Pendapatan per pesanan
  • Faktur elektronik
  • Catatan pelacakan pendapatan, dokumen terkait (tergantung kasusnya)

Sejalan dengan peta jalan transformasi, Kementerian Keuangan dan otoritas pajak mempromosikan kegiatan transformasi digital untuk mendukung rumah tangga bisnis dalam mengajukan SPT pajak secara elektronik mulai tahun 2026.

Situasi terkini dan "kendala" yang dihadapi saat menyelesaikan deklarasi pajak menjelang batas waktu.

Ketika pajak didasarkan pada tarif tetap, banyak bisnis terbiasa hanya membayar saat jatuh tempo. Namun, dengan peralihan ke sistem berbasis deklarasi, tekanan biasanya berfokus pada empat area utama:

  • Pendapatan tersebar di berbagai saluran: platform e-commerce, media sosial, toko fisik, kolaborator, dan lain-lain, sehingga sulit untuk menutup penjualan yang tepat tanpa sistem yang memadai.
  • Kurangnya riwayat transaksi: tidak adanya catatan pesanan dan rekonsiliasi memudahkan terjadinya kesalahan dalam perhitungan total pendapatan.
  • Faktur tidak menyertai transaksi: menerbitkan faktur terpisah mengurangi kemampuan untuk merekonsiliasi faktur dan meningkatkan risiko ketidaksesuaian.
  • Menunda-nunda hingga akhir periode: semakin dekat dengan tenggat waktu, semakin tinggi risiko keterlambatan pengajuan atau terburu-buru dalam menyerahkan deklarasi.

Otoritas pajak juga menerapkan kampanye intensif untuk mendukung rumah tangga bisnis dalam "mengenal deklarasi pajak" sebelum transisi, yang menunjukkan perubahan signifikan dalam kebiasaan dan kemampuan operasional.

Peraturan mengenai kesalahan dalam deklarasi dan sanksi.

Berikut ini adalah sanksi administratif tipikal menurut Keputusan Pemerintah Nomor 125/2020/ND-CP tentang sanksi administratif untuk pelanggaran terkait pajak dan faktur.

Keterlambatan pengajuan SPT pajak

Sesuai dengan Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 125/2020/ND-CP, sanksi keterlambatan pengajuan SPT Pajak ditetapkan berdasarkan jumlah hari keterlambatan, misalnya:

  • 1 hingga 5 hari (dan dengan mempertimbangkan keadaan yang meringankan): hukuman peringatan
  • 1 hingga 30 hari: denda 2.000.000 hingga 5.000.000 VND
  • 31 hingga 60 hari: denda 5.000.000 hingga 8.000.000 VND
  • 61 hingga 90 hari (atau kasus serupa seperti yang tercantum dalam klausul 4): denda sebesar VND 8.000.000 hingga VND 15.000.000.
  • Lebih dari 90 hari (sesuai peraturan yang berlaku): denda sebesar VND 15.000.000 hingga VND 25.000.000.

Deklarasi yang tidak akurat mengakibatkan kekurangan dalam pembayaran pajak.

Sesuai dengan Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 125/2020/ND-CP, terdapat peraturan mengenai sanksi berdasarkan persentase, termasuk dalam kasus di mana sanksi sebesar 20% dari jumlah pajak yang kurang dilaporkan atau jumlah pajak yang telah dibebaskan, dikurangi, atau dikembalikan melebihi peraturan yang berlaku, dikenakan, tergantung pada undang-undang dan kondisi yang berlaku.

(Kutipan dari Keputusan 125/2020/ND-CP tentang Portal Informasi Pemerintah)

Apa peran GTG CRM selama periode transisi ini?

GTG CRM tidak "mengajukan SPT pajak atas nama" atau "membayar pajak atas nama" bisnis. Peran yang paling tepat selama periode transisi ini adalah membantu bisnis menstandarisasi data operasional mereka untuk pengajuan pajak yang akurat dan tepat waktu, terutama karena modelnya bergeser ke pelacakan pendapatan aktual.

  • Memusatkan faktur keluar dan masuk di satu tempat membantu mempercepat penyelesaian angka setiap periode, mengurangi penjumlahan manual dari berbagai saluran.
  • Menghubungkan faktur elektronik dengan transaksi aktual mempermudah rekonsiliasi saat meninjau pendapatan untuk periode tertentu.
  • Mengurangi risiko "menunggu hingga menit terakhir": karena data dicatat dari waktu ke waktu, bukan dikumpulkan di akhir periode.
  • Mendukung disiplin operasional: pemilik toko dan akuntan internal berbagi sumber data yang sama untuk pengecekan silang.

Kegiatan transformasi digital untuk usaha rumah tangga juga gencar dipromosikan oleh pemerintah, sehingga standarisasi data penjualan dan faktur merupakan pendekatan proaktif.

Contoh ilustrasi: Gambar "satu dasbor" yang menampilkan Pendapatan, Pesanan, Faktur Elektronik, dan ekspor file rekonsiliasi.

Menyimpulkan

Mulai 1 Januari 2026, peralihan ke sistem deklarasi dan pembayaran mandiri merupakan perubahan besar dalam kebiasaan dan disiplin data. Sebelumnya, sistem pajak sekaligus (lump-sum) membuat banyak bisnis tidak perlu banyak berurusan dengan sistem akuntansi mereka. Namun setelah tanggal tersebut, faktor penentu adalah memiliki data pendapatan yang jelas untuk setiap periode, lengkap dengan faktur dan kemampuan untuk merekonsiliasinya.

Optimalkan Operasi Percepat Pertumbuhan Bisnis

Uji Coba GRATIS 14 Hari
Semua Fitur Tersedia
Tanpa Kartu Kredit